“Bu Sumi ku Sayang, Bu Sumi ku Malang…”
Suatu siang yang terik, seorang ibu dengan menahan sakit, berjalan perlahan masuk kesebuah Rumah Sakit. Gedung yang dipenuhi oleh alat-alat canggih dan tenaga medis serta paramedic diharapkan bisa membantunya. Harapan dia tinggi.
Dengan mengempit tas kecil dibawah lengannya, si ibu sebut saja ibu Sumi, mendatangi meja resepsionis. Dua perawat menyambutnya dengan senyum ramah.
“Siang Ibu, ada yang bisa dibantu?”Tanya perawat dengan ramah
“eeh…ehh…iya mbak, saya mau periksa kepala saya ini. Sudah seminggu pusing tapi
tidak sembuh-sembuh.” Keluh Bu Sumi sembari memijat kepalanya yang sakit
“oh, sebentar ya bu, silakan duduk dulu.” Perawat berkata sambil tangannya menunjuk ke kursi tunggu yang kosong
Dengan perlahan sekali dan masih memegang kepalanya, Bu Sumi duduk di kursi itu.
Perawat sibuk menelpon ke salah satu sambungan dokter. Entah dokter yang mana, pria atau wanita, yang pasti sedang berusaha menghubungi dokter untuk memeriksa Bu Sumi.
Bu Sumi sebenarnya sudah tidak kuat lagi dengan sakit yang dia rasakan sampai sekarang ini, tapi mau bagaimana lagi. Karena keluarganya, anak-anaknya sedang membutuhkan biya yang banyak untuk sekolah, terpaksa dia menahan-nahan sakitnya hingga keuangan keluarga sedikit lega. Ya siang ini.
Setelah beberapa waktu menunggu (tapi Bu Sumi merasa sangat lama), perawat tadi menghampiri Bu Sumi di kursinya.
“Ibu, silakan ke meja saya.” Pinta perawat lembut
“erg…erg….” Bu Sumi sedikit mengerang sambil berusaha cepat berdiri dan berjalan
Sesampainya di meja perawat tadi ibu Sumi diminta mengisi kertas yang sudah disiapkan oleh perawat untuk biodata.
“Silakan menuliskan data diri ya Bu, ini kertas dan pulpennya.”
Sejenak Bu Sumi diam, tanpa ekspresi dan tampak bingung. Pulpen yang dia pegang, hanya dimain-mainkan dijarinya. Dia berpikir. Sejenak kemudian perawat dengan wajah herannya menanyakan perihal ganjal itu.
“lho kok nggak ditulis Bu?” Tanya perawat keheranan
“saya tidak bisa nulis mbak.” Jawab Bu Sumi lugu sambil menunduk
“oh, mmmm ya sudah mari saya Bantu.”
Seketika itu, Bu Sumi tersenyum dan menatap haru kepada perawat dan membatin “baik sekali perawat ini ya..”
Setelah selesai mengisi data diri, perawat mengantar bu Sumi menyusuri lorong Rumah sakit yang ramai pasien. Sedikir tergopoh-gopoh Bu Sumi mengikuti langkah si perawat. Akhirnya di depan pintu sebuah ruangan berpintu coklat kayu, si perawat mengetuknya.
“permisi dok, ini pasiennya”. Perawat melaporkan kepada si dokter
“silakan ibu” perawat mempersilakan Bu Sumi bertemu dengan dokter dan langsung keluar ruangan. Mungkin masih banyak tugas di mejanya.
“Mari Ibu, silakan duduk”. Si dokter mempersilakan dan berdiri menyalami Bu Sumi
“ Ada yang bisa saya Bantu Bu?” Tanya si dokter
“Ini Dok, ee..saya sudah seminggu ini nggak ilang-ilang sakit nya.”
“sakit apa Ibu?”
“kepala Dok. Kenapa ya Dok. Rasanya mau pecah saja ini Dok. Saya jadi sering uring-uringan dirumah, mana anak-anak pada minta duit buat sekolahnya. Yah, kami kan Cuma dapet uang dari hasil ojek-an suami saya dan hasil buruh cuci saya sehari-hari. Ya nggak seberapa Dok, mana harga-harga sekarang mahal Dok, mahal banget. Aduuh…”
Dengan tersenyum, dokter mengangguk-angguk dengan cerita Bu Sumi.
“Oke, Coba saya periksa dulu ya Bu, silakan tiduran disini.”
Dokter dengan sigap memeriksa tekanan darah dan nadi bu Sumi. Dengan sabar menuntun bu Sumi untuk menarik napas ketika meletakkan stetoskop didadanya.
“sudah Ibu.” Dokter menyudahi pemeriksaannya
“Gimana Dok, hasilnya?” Tanya bu Sumi penasaran dan tergesa
“ehm…kita harus memeriksa kesehatan ibu lebih rinci,ee…
“maksudnya gimana Dok?” potong Bu Sumi
“Iya, jadi Ibu, Ibu harus kembali ke Rumah Sakit untuk diperiksa. Diperiksa lebih banyak. Karena kami belum yakin penyekit yang ibu derita. Jadi harus teliti memeriksanya”. Jelas Dokter
“jadi saya harus balik lagi kesini Dok?”
“iya Ibu. Agar penyakit ibu bisa ditetapkan penyakit apa, Ibu harus, ya mungkin 2 sampai 3 kali berturu-turut ke sini. Kami tidak ingin salah diagnosa untuk penyakit Ibu ini. Begitu itu, sementara saya belum bisa bilang ibu sakit apa.” Terang Dokter dengan tersenyum
Bu Sumi yang tidak berpendidikan, dijelaskan seperti itu hanya manggut-manggut saja, yang penting dia akan sembuh nanti setelah periksa. Tapi ada satu yang mengganjal dipikiran Bu Sumi. Duit. Ya, Duit. Darimana dia mendapatkan duit untuk pemeriksaan yang 2 sampai 3 kali itu.
“eee, Dok kalau boleh tahu, saya harus bayar berapa ya untuk periksa hari ini dan untuk besok-besok itu?”Tanya Bu Sumi sedikit ragu dan khawatir
“Waduh, saya tidak tahu ya Bu. Coba tanya ke perawat yang mengantar Ibu tadi, nanti dia akan mengantar Ibu ke bagian loket pembayaran”. Jawab Dokter
“oh, ya udah Dok. Ini sudah selesai kan? Saya kembali lagi besok ya Dok, semoga ada duit untuk balik kesini nya”. Bu Sumi berpamitan sambil menyalami Dokter dan keluar ruangan menuju meja perawat tadi lagi.
“Mbak, mau nanya, mbayarnya gimana ya? Dimana?” Tanya Bu Sumi
“sebentar ya Bu.”
“mari saya antar.”
Mereka berdua menuju ke loket pembayaran yang berada diujung koridor pertama. Setelah mengucapkan terimakasih, perawat kembali ke mejanya meninggalkan Bu Sumi yang ragu-ragu untuk bertanya ke petugas pembayaran.
“pak, maaf saya Sumi barusan sudah diperiksa. Ee..bayarnya berapa ya pak?” akhirnya Bu Sumi memberanikan diri bertanya
“Ibu Sumi ya?, ini Bu, bon nya, silakan dilihat dulu. Jadi total ibu yang tertulis dipaling bawah”, petugas sambil menunjukkan slip bon kepada Bu Sumi.
“ oh, tujuhpuluh ribu ya??gumam Bu Sumi tanpa terdengar oleh petugas tentunya.
Sejenak Bu Sumi bingung sambil memegangi kepalanya. Serasa tambah sakit saja kepalanya itu. Tujuh puluh ribu adalah angka yang besar baginya, nisa buat makan seminggu mungkin. Di dompetnya hanya terselip uang selembar ratusan ribu, tadi sudah dikurangi ongkos metromini Rp 2500, nanti buat ongkos pulang Rp 2500 lagi. Kalau dikurangi Rp 70.000 untuk bayar rumah sakit berarti duitnya sisa Rp 25.000. Padahal, hari ini dia belum masak buat keluarganya yang berjumlah tujuh. Cukup nggak ya, duitnya? Pertanyaan yang muncul dibenak Bu Sumi.
“bagaimana Ibu?tanya petugas mengagetkan Bu Sumi
“eh, oh iya pak, tujuh puluh ribu ya? Ini…”Bu Sumi menyerahkan uang kepada petugas dengan enggan
Setelah selesai membayar bon hari ini, Bu Sumi mencoba bertanya untuk pemeriksaan besok harus bayar berapa. Dan Bu sumi mendaptkan jawaban yang tidak enak buat dia. Satu kata dalam benaknya, mahal. Ya, mahal.
*****
Sore hari menjelang maghrib, Bu Sumi ngobrol dengan tetangganya. Bu Sumi bercerita tentang dia yang periksa di rumah sakit hari ini. Mengeluh dengan biaya yang harus dia keluarkan, yang harus dia bayar. Mahal sekali menurutnya. Dengan penghasilan yang tidak seberapa dan harus menanggung 3 orang anak, satu adik dan satu mertuanya, tidak mencukup sama sekali penghasil dia dan saminya. Pusing tujuh keliling sekarang Bu Sumi, karena besok dia harus ke rumah sakit lagi, dan mungkin hingga lusa dia harus ke rumah sakit. Tidak bisa membayangkan berapa banyak uang lagi yang harus dia keluarkan. Sedangkan dia juga harus makan, harus memberi uang jajan, bayar buku untuk anak-anaknya, belum lagi bayar listrik dan sewa kontrakan yang sudah nunggak 2 bulan ini. Bu Sumi hanya bisa mengelus dada dengan keadaannya dan bertanya “kok nggak ada yang mbantu aku”, “kok pemerintah jahat ya”, “rumah sakit mahal banget sih”? dan masih banyak pertanyaan lagi dari Bu Sumi meratapi keadaannya.
Lalu tetangganya yang setia mendengarkan cerita Bu Sumi ngomong…
“Lho, Sum kan sekarang kita bisa gratis kalo periksa ke rumah sakit”.
“ah, apa iya. Mana ada gratis didunia ini?”
“lho, gimana tho kamu ini, bener lho. Kemarin sodaraku juga gratis periksa di rumahsakit, obatnya juga gratis Sum.”
“beneran itu??” Bu Sumi masih tidak percaya
“katanya sih, ada bantuan gitu dari pemerintah buat orang miskin, ya kayak kita ini”.
“Oh. Kayak taon kemarin itu yo??”
“iyo mungkin, iyo, iyo Sum kayak taon kemarin, kamu juga gratis tho? Jadi dibiayai semua sama pemerintah Sum. Tapi…..”
“Tapi apa??”
“kamu harus ngurus surat dulu Sum ke pak RT, kalo kamu tidak mampu bayar rumah sakit itu.”
“lho kan udah ada kartu yang kemarin, kok ngurus lagi?”
“yang aku denger sih, sekarang ada yang baru gitu Sum, namanya…namanya…ee…Jam..Jam…Jamkesma, ya Jamkesmas Sum, aku yo nggak tau apa artinya. Yang jelas kalo kita punya kartunya, bisa gratis Sum ke Rumah sakitnya. Gitu Sum…. Nah karena baru, berarti pake kartu yang baru, kamu belum dapet tho?”
“iyo”.
“makanya, kudu ngurus dulu ke pak RT biar dapat suratnya Sum.”
“ooo, gitu ya..”
Setelah sholat maghrib, Sum ditemani suaminya ke rumah pak RT. Dan alhamdulillah dapat suratnya, tapi ke pak lurah biar disahkan. Setelah di pak RT, Sum langsung ke pak lurah. Syukur, malam itu selesai sudah urusan surat-surat itu. Sum sedikit lega da berharap besok tidak bayar lagi untuk periksa ke rumah sakit.
****
Pagi harinya, dengan membawa surat dari pak lurah, Bu Sum ke rumah sakit lagi. Seperti biasa, setelah nulis buku pasien dia diantar perawat ke ruang dokter yang kemarin. Lalu…
“Oke Ibu Sum, hari ini kita akan periksa CT Sean. Nanti ibu akan masuk seperti tabung gitu, gak sakit, Cuma disinarin aja. Sebentar kok.” Jelas Dokter
“eee…Dok, saya bawa surat dari pak lurah nih………”
“wah, kami sudah tidak menerima surat tidak mampu sekarang Bu. Karena, yaa…pemerintah belum bayar tagihan kami tahun lalu. Kami nggak bisa menerima lagi pasien dengan surat tidak mampu itu………….”
“##@^^*??//……………”, Bu Sum bengong….
——————————————————
Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala, selalu di puja-puja bangsa……..
Malu rasanya melantunkan lagu ini
Seolah mengkhianati liriknya
Kondisi Indonesia yang kian memprihatinkan
Pendidikan mahal, kesehatan mahal, korupsi dimana2..
Apakah masih ada pujaan untuk Indonesia setelah ada masalah2 itu??
Yang miskin tetap miskin, bahkan tambah miskin
Yang kaya pengen jadi “miskin” karena ada gratis-an
Dimana moral bangsa ini?? Sedih……
Pemerintah??dimana bijakmu??
Bu menteri? Dimanakah suara lantangmu ketika rakyat mu menderita begini??
Orang-orang kaya?? Dimana malumu ketika kamu mengaku miskin???
Kemanakah sebuah Indonesia yang sejahtera??
Mimpi kah………????