petaniku….

BELAJAR DARI PETANI

Pagi hari yang memunculkan harapan baru dari Yang Maha Kuasa, seakan meneguhkan langkah kaki kedepan. Tapak yang membekas bumi menjadi saksi kerasnya usaha yang dilakukan. Setiap hari, setiap hari.

Bersama sang pelengkap hidup, dia melakukan pekerjaan itu dengan gembira. Walau dengan pakaian lusuh, kaki telanjang, penutup kepala dari rajutan bambu dan memanggul “senjata” nya, dia tetap menikmati kesehariannya. Menggarap sebidang tanah, menyemainya dengan benih unggul, mengairinya, menyiangi, memupuk hingga akhirnya memanennya. Ya, itulah petani.

Bagaimana seorang petani bekerja keras untuk hidupnya. Berdua bersama istrinya memupuk sedikit demi sedikit uang untuk anak-anak mereka. Pagi-pagi buta sudah bangun, menyiapkan bersama keperluan ke sawah dan tak lupa sarapan untuk anak-anaknya sebelum kesekolah. Semua itu dilakukan dengan senang hati, karena memang kehidupannya mengharuskan mereka begitu.

Satu mitos mungkin, jangan sampai anak-anaknya menjadi petani seperti orangtuanya. Harapan menjadi lebih baik membuat petani betah di sawah atau ladangnya seharian, mungkin hingga malam hari.

Saling menghormati dan berbagi rasa sepertinya sangat terasa dikeluarga petani. Beralaskan tikar untuk duduk, makan bersama lesehan. Nasi yang mengepul di “tumbu” (tempat dari bambu), walau hanya dengan gorengan ikan asin, tempe, lalapan, dan sambal terasi, nikmatnya mungkin tidak bisa dibandingkan dengan orang kaya yang makan di restoran. Orang kaya biasanya selalu ke restoran mewah, dengan menu yang serba wah, namun sebagian waktunya dihabiskan memperbincangkan pekerjaan, bisnis. Sedangkan keluarga petani, suasana hangat, renyah tawa dan kasih sayang selalu menyelimuti. Tidak ada perbincangan bisnis yang rumit, obrolan politik yang menaikkan tekanan darah atau masalah-masalah “besar” lainnya.

Belum lagi ketenangan hidup lainnya di keluarga petani. Suara-suara binatang malam, kunang-kunang yang mewarnai gulita malam dan angina semilir yang menggoyangkan daun-daun hijau dirantingnya, seakan dunia ini damai.

Sedangkan orang kota yang tinggal di apartemen pusat kota, malam-malamnya selalu diwarnai dengan suara hiruk pikuk kendaraan yang berlalu-lalang, silau nyala lampu dan udara panas polusi menjadikan seolah kota tidak pernah istirahat.

Lukisan malam yang sangat kontras,berbeda. Seduan teh panas dan kopi memberi kehangatkan lebih dari sekedar minuman wisky atau brandy. Tidak ada kerisuhan, keributan, gemerlap malam yang melelahkan jiwa, perselisihan atau yang lainnya. Yang ada hanyalah ketenangan dan kedamaian hidup dan hati.

Kesederhanaan kehidupan petani yang sebenarnya bisa ditiru oleh semua orang. Kerasnya usaha untuk hidup lebih baik, sifat “nrimo” (menerima dengan ikhlas) atas apa yang dimiliki, tidak tinggi khayalan dan selalu rendah diri adalah beberapa dari karakter petani yang bisa kita teladani.

Kadang kita terbelenggu dengan alam kita sendiri. Bersudut pandang dengan perspektif kita sendiri, memikirkan kebutuhan kita sendiri dan seringnya mengabaikan hak saudara atau orang disekitar kita. Padahal mungkin ketika kita membalik keadaan-keadaan itu semua, kehidupan kita mungkin bisa setenang dan sedamai petani di desa.

Ketika memperhatikan kehidupan sekitar kita, berusaha menjadi orang lain “yang susah” mungkin dan menunaikan hak sodara. Betapa optimalnya kehidupan. Namun masih banyak yang tidak menyadari itu.

Bagaimana jika keadaan yang optimal itu terjadi sekarang, pada diri kita? apa yang kita lakukan pertama kali? Bersyukur atau malah bingung. Bingung karena terkejut lalu timbul pertanyaan seolah penyesalan “ kenapa tidak dari dulu aku begini??”

sepenggal tulisan…

“Bu Sumi ku Sayang, Bu Sumi ku Malang…”

Suatu siang yang terik, seorang ibu dengan menahan sakit, berjalan perlahan masuk kesebuah Rumah Sakit. Gedung yang dipenuhi oleh alat-alat canggih dan tenaga medis serta paramedic diharapkan bisa membantunya. Harapan dia tinggi.

Dengan mengempit tas kecil dibawah lengannya, si ibu sebut saja ibu Sumi, mendatangi meja resepsionis. Dua perawat menyambutnya dengan senyum ramah.

“Siang Ibu, ada yang bisa dibantu?”Tanya perawat dengan ramah

“eeh…ehh…iya mbak, saya mau periksa kepala saya ini. Sudah seminggu pusing tapi

tidak sembuh-sembuh.” Keluh Bu Sumi sembari memijat kepalanya yang sakit

“oh, sebentar ya bu, silakan duduk dulu.” Perawat berkata sambil tangannya menunjuk ke kursi tunggu yang kosong

Dengan perlahan sekali dan masih memegang kepalanya, Bu Sumi duduk di kursi itu.

Perawat sibuk menelpon ke salah satu sambungan dokter. Entah dokter yang mana, pria atau wanita, yang pasti sedang berusaha menghubungi dokter untuk memeriksa Bu Sumi.

Bu Sumi sebenarnya sudah tidak kuat lagi dengan sakit yang dia rasakan sampai sekarang ini, tapi mau bagaimana lagi. Karena keluarganya, anak-anaknya sedang membutuhkan biya yang banyak untuk sekolah, terpaksa dia menahan-nahan sakitnya hingga keuangan keluarga sedikit lega. Ya siang ini.

Setelah beberapa waktu menunggu (tapi Bu Sumi merasa sangat lama), perawat tadi menghampiri Bu Sumi di kursinya.

“Ibu, silakan ke meja saya.” Pinta perawat lembut

“erg…erg….” Bu Sumi sedikit mengerang sambil berusaha cepat berdiri dan berjalan

Sesampainya di meja perawat tadi ibu Sumi diminta mengisi kertas yang sudah disiapkan oleh perawat untuk biodata.

“Silakan menuliskan data diri ya Bu, ini kertas dan pulpennya.”

Sejenak Bu Sumi diam, tanpa ekspresi dan tampak bingung. Pulpen yang dia pegang, hanya dimain-mainkan dijarinya. Dia berpikir. Sejenak kemudian perawat dengan wajah herannya menanyakan perihal ganjal itu.

“lho kok nggak ditulis Bu?” Tanya perawat keheranan

“saya tidak bisa nulis mbak.” Jawab Bu Sumi lugu sambil menunduk

“oh, mmmm ya sudah mari saya Bantu.”

Seketika itu, Bu Sumi tersenyum dan menatap haru kepada perawat dan membatin “baik sekali perawat ini ya..”

Setelah selesai mengisi data diri, perawat mengantar bu Sumi menyusuri lorong Rumah sakit yang ramai pasien. Sedikir tergopoh-gopoh Bu Sumi mengikuti langkah si perawat. Akhirnya di depan pintu sebuah ruangan berpintu coklat kayu, si perawat mengetuknya.

“permisi dok, ini pasiennya”. Perawat melaporkan kepada si dokter

“silakan ibu” perawat mempersilakan Bu Sumi bertemu dengan dokter dan langsung keluar ruangan. Mungkin masih banyak tugas di mejanya.

“Mari Ibu, silakan duduk”. Si dokter mempersilakan dan berdiri menyalami Bu Sumi

“ Ada yang bisa saya Bantu Bu?” Tanya si dokter

“Ini Dok, ee..saya sudah seminggu ini nggak ilang-ilang sakit nya.”

“sakit apa Ibu?”

“kepala Dok. Kenapa ya Dok. Rasanya mau pecah saja ini Dok. Saya jadi sering uring-uringan dirumah, mana anak-anak pada minta duit buat sekolahnya. Yah, kami kan Cuma dapet uang dari hasil ojek-an suami saya dan hasil buruh cuci saya sehari-hari. Ya nggak seberapa Dok, mana harga-harga sekarang mahal Dok, mahal banget. Aduuh…”

Dengan tersenyum, dokter mengangguk-angguk dengan cerita Bu Sumi.

“Oke, Coba saya periksa dulu ya Bu, silakan tiduran disini.”

Dokter dengan sigap memeriksa tekanan darah dan nadi bu Sumi. Dengan sabar menuntun bu Sumi untuk menarik napas ketika meletakkan stetoskop didadanya.

“sudah Ibu.” Dokter menyudahi pemeriksaannya

“Gimana Dok, hasilnya?” Tanya bu Sumi penasaran dan tergesa

“ehm…kita harus memeriksa kesehatan ibu lebih rinci,ee…

“maksudnya gimana Dok?” potong Bu Sumi

“Iya, jadi Ibu, Ibu harus kembali ke Rumah Sakit untuk diperiksa. Diperiksa lebih banyak. Karena kami belum yakin penyekit yang ibu derita. Jadi harus teliti memeriksanya”. Jelas Dokter

“jadi saya harus balik lagi kesini Dok?”

“iya Ibu. Agar penyakit ibu bisa ditetapkan penyakit apa, Ibu harus, ya mungkin 2 sampai 3 kali berturu-turut ke sini. Kami tidak ingin salah diagnosa untuk penyakit Ibu ini. Begitu itu, sementara saya belum bisa bilang ibu sakit apa.” Terang Dokter dengan tersenyum

Bu Sumi yang tidak berpendidikan, dijelaskan seperti itu hanya manggut-manggut saja, yang penting dia akan sembuh nanti setelah periksa. Tapi ada satu yang mengganjal dipikiran Bu Sumi. Duit. Ya, Duit. Darimana dia mendapatkan duit untuk pemeriksaan yang 2 sampai 3 kali itu.

“eee, Dok kalau boleh tahu, saya harus bayar berapa ya untuk periksa hari ini dan untuk besok-besok itu?”Tanya Bu Sumi sedikit ragu dan khawatir

“Waduh, saya tidak tahu ya Bu. Coba tanya ke perawat yang mengantar Ibu tadi, nanti dia akan mengantar Ibu ke bagian loket pembayaran”. Jawab Dokter

“oh, ya udah Dok. Ini sudah selesai kan? Saya kembali lagi besok ya Dok, semoga ada duit untuk balik kesini nya”. Bu Sumi berpamitan sambil menyalami Dokter dan keluar ruangan menuju meja perawat tadi lagi.

“Mbak, mau nanya, mbayarnya gimana ya? Dimana?” Tanya Bu Sumi

“sebentar ya Bu.”

“mari saya antar.”

Mereka berdua menuju ke loket pembayaran yang berada diujung koridor pertama. Setelah mengucapkan terimakasih, perawat kembali ke mejanya meninggalkan Bu Sumi yang ragu-ragu untuk bertanya ke petugas pembayaran.

“pak, maaf saya Sumi barusan sudah diperiksa. Ee..bayarnya berapa ya pak?” akhirnya Bu Sumi memberanikan diri bertanya

“Ibu Sumi ya?, ini Bu, bon nya, silakan dilihat dulu. Jadi total ibu yang tertulis dipaling bawah”, petugas sambil menunjukkan slip bon kepada Bu Sumi.

“ oh, tujuhpuluh ribu ya??gumam Bu Sumi tanpa terdengar oleh petugas tentunya.

Sejenak Bu Sumi bingung sambil memegangi kepalanya. Serasa tambah sakit saja kepalanya itu. Tujuh puluh ribu adalah angka yang besar baginya, nisa buat makan seminggu mungkin. Di dompetnya hanya terselip uang selembar ratusan ribu, tadi sudah dikurangi ongkos metromini Rp 2500, nanti buat ongkos pulang Rp 2500 lagi. Kalau dikurangi Rp 70.000 untuk bayar rumah sakit berarti duitnya sisa Rp 25.000. Padahal, hari ini dia belum masak buat keluarganya yang berjumlah tujuh. Cukup nggak ya, duitnya? Pertanyaan yang muncul dibenak Bu Sumi.

“bagaimana Ibu?tanya petugas mengagetkan Bu Sumi

“eh, oh iya pak, tujuh puluh ribu ya? Ini…”Bu Sumi menyerahkan uang kepada petugas dengan enggan

Setelah selesai membayar bon hari ini, Bu Sumi mencoba bertanya untuk pemeriksaan besok harus bayar berapa. Dan Bu sumi mendaptkan jawaban yang tidak enak buat dia. Satu kata dalam benaknya, mahal. Ya, mahal.

*****

Sore hari menjelang maghrib, Bu Sumi ngobrol dengan tetangganya. Bu Sumi bercerita tentang dia yang periksa di rumah sakit hari ini. Mengeluh dengan biaya yang harus dia keluarkan, yang harus dia bayar. Mahal sekali menurutnya. Dengan penghasilan yang tidak seberapa dan harus menanggung 3 orang anak, satu adik dan satu mertuanya, tidak mencukup sama sekali penghasil dia dan saminya. Pusing tujuh keliling sekarang Bu Sumi, karena besok dia harus ke rumah sakit lagi, dan mungkin hingga lusa dia harus ke rumah sakit. Tidak bisa membayangkan berapa banyak uang lagi yang harus dia keluarkan. Sedangkan dia juga harus makan, harus memberi uang jajan, bayar buku untuk anak-anaknya, belum lagi bayar listrik dan sewa kontrakan yang sudah nunggak 2 bulan ini. Bu Sumi hanya bisa mengelus dada dengan keadaannya dan bertanya “kok nggak ada yang mbantu aku”, “kok pemerintah jahat ya”, “rumah sakit mahal banget sih”? dan masih banyak pertanyaan lagi dari Bu Sumi meratapi keadaannya.

Lalu tetangganya yang setia mendengarkan cerita Bu Sumi ngomong…

“Lho, Sum kan sekarang kita bisa gratis kalo periksa ke rumah sakit”.

“ah, apa iya. Mana ada gratis didunia ini?”

“lho, gimana tho kamu ini, bener lho. Kemarin sodaraku juga gratis periksa di rumahsakit, obatnya juga gratis Sum.”

“beneran itu??” Bu Sumi masih tidak percaya

“katanya sih, ada bantuan gitu dari pemerintah buat orang miskin, ya kayak kita ini”.

“Oh. Kayak taon kemarin itu yo??”

“iyo mungkin, iyo, iyo Sum kayak taon kemarin, kamu juga gratis tho? Jadi dibiayai semua sama pemerintah Sum. Tapi…..”

“Tapi apa??”

“kamu harus ngurus surat dulu Sum ke pak RT, kalo kamu tidak mampu bayar rumah sakit itu.”

“lho kan udah ada kartu yang kemarin, kok ngurus lagi?”

“yang aku denger sih, sekarang ada yang baru gitu Sum, namanya…namanya…ee…Jam..Jam…Jamkesma, ya Jamkesmas Sum, aku yo nggak tau apa artinya. Yang jelas kalo kita punya kartunya, bisa gratis Sum ke Rumah sakitnya. Gitu Sum…. Nah karena baru, berarti pake kartu yang baru, kamu belum dapet tho?”

“iyo”.

“makanya, kudu ngurus dulu ke pak RT biar dapat suratnya Sum.”

“ooo, gitu ya..”

Setelah sholat maghrib, Sum ditemani suaminya ke rumah pak RT. Dan alhamdulillah dapat suratnya, tapi ke pak lurah biar disahkan. Setelah di pak RT, Sum langsung ke pak lurah. Syukur, malam itu selesai sudah urusan surat-surat itu. Sum sedikit lega da berharap besok tidak bayar lagi untuk periksa ke rumah sakit.

****

Pagi harinya, dengan membawa surat dari pak lurah, Bu Sum ke rumah sakit lagi. Seperti biasa, setelah nulis buku pasien dia diantar perawat ke ruang dokter yang kemarin. Lalu…

“Oke Ibu Sum, hari ini kita akan periksa CT Sean. Nanti ibu akan masuk seperti tabung gitu, gak sakit, Cuma disinarin aja. Sebentar kok.” Jelas Dokter

“eee…Dok, saya bawa surat dari pak lurah nih………”

“wah, kami sudah tidak menerima surat tidak mampu sekarang Bu. Karena, yaa…pemerintah belum bayar tagihan kami tahun lalu. Kami nggak bisa menerima lagi pasien dengan surat tidak mampu itu………….”

##@^^*??//……………”, Bu Sum bengong….

——————————————————

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala, selalu di puja-puja bangsa……..

Malu rasanya melantunkan lagu ini

Seolah mengkhianati liriknya

Kondisi Indonesia yang kian memprihatinkan

Pendidikan mahal, kesehatan mahal, korupsi dimana2..

Apakah masih ada pujaan untuk Indonesia setelah ada masalah2 itu??

Yang miskin tetap miskin, bahkan tambah miskin

Yang kaya pengen jadi “miskin” karena ada gratis-an

Dimana moral bangsa ini?? Sedih……

Pemerintah??dimana bijakmu??

Bu menteri? Dimanakah suara lantangmu ketika rakyat mu menderita begini??

Orang-orang kaya?? Dimana malumu ketika kamu mengaku miskin???

Kemanakah sebuah Indonesia yang sejahtera??

Mimpi kah………????

kesempatan miskin vs kesempatan sehat

Kesempatan Miskin vs Kesempatan Sehat

Berita-berita yang menghiasi lembar cetak akhir-akhir ini sangat menguras perhatian masyarakat. Mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok yang disulut oleh kenaikan harga BBM, persidangan kasus BLBI yang melibatkan wanita cantik yang akrab dipanggil dengan Ayin, “kekerasan” yang dilakukan oleh suatu kelompok tertentu kepada kelompok lain hingga berita dari kalangan intelektual muda alias mahasiswa dengan aksi-aksinya.

Semua berita itu sangatlah memperlihatkan ketidakpuasan suatu pihak terhadap pihak lain. Bisa pihak masyarakat, bisa juga pihak pemerintah. Yang pasti akan merugikan salah satu pihak. Dan sayangnya, kerap kali pihak masyarakat yang menjadi korban dari peristiwa-peristiwa tadi. Ujung-ujungnya, kepentingan rakyat sedikit banyak terabaikan.

Kepentingan rakyat pun berbeda-beda. Tergantung dari rakyat yang mana? Rakyat kelas apa? Rakyat miskin ataukah kaya, kelas atas atau bawah? Kepentingan masing-masing berbeda. Acap kali yang miskin dan kelas bawahlah yang akan menjadi victim dari “kekejaman” tindakan yang tidak mereka lakukan. Dan sayangnya lagi, mereka seolah-olah didesign untuk selalu memerankan tokoh yang tertindas di negaranya sendiri dan selalu merana. Hal ini muncul hanya oleh factor yang sebenarnya bisa diselesaikan bersama dengan duduk bareng, kepala dingin dan saling memahami. Memahami dan berkeadilan.

Lha wong, kadang-kadang cara yang halus dan saling memahami ataupun berkeadilan, pun masih diwarnai dengan bentrokan baik fisik maupun verbal masih saja terjadi. Atau mungkin orang-orang ini sudah tidak bisa memahami dan berkeadilan? Dimana slogan “ramah tamah, gemah ripah loh jinawi” ataupun yang sudah lebih dari setengah abad tercantum dalam butir-butir pancasila, terutama sila ke empat atau dalam pasal 28 UUD 1945 tentang kebebasan bicara (ekspresi). Apakah yang salah dengan Negara Indonesia yang kita cintai ini? Siapakah yang musti mempertanggungjawabi semua peristiwa yang terjadi?

Bila semua permasalahan dihadapi dengan ke’ego’an individu maupun kelompok, pasti tidak akan tercapai cita-cita untuk mensejahterakan masyarakat. Masyarakat sekarang ini memerlukan suatu keadaan yang nyaman untuk mereka bisa sejahtera, aman dan tentu saja kesempatan untuk produktif. Ketika tidak terpenuhinya cita-cita ini, masyarakat bagaikan sepeda yang digenjot setiap hari tanpa ada perawatan yang layak. Dilematis. Kebermanfaatan yang termanfaatkan oleh oknum-oknum yang berkepentingan.

Kecilnya kesempatan yang didapat, bisa menyebabkan suatu serangan balik yang “diam-diam- disusun oleh masyarakat itu sendiri. Tekanan-tekanan dari pemerintah yang berdampak pada kehidupannya bisa saja disadari maupun tidak akan menjadi semangat yang berkobar. Semangat untuk berontak yang menyala-nyala. Sudah kecapaian mungkin menghadapi situasi yang seolah-olah selalu merugikan bagi mereka.

Namun apabila kita cermati ada satu isu yang tidak ditanggapi dengan kekerasan, bentrokan oleh masyarakat. Isu kesehatan. Hal yang sangat dekat dengan masyarakat. Erat dan dekat dengan kehidupan dan kematian. Ya, kesehatan. Mengapa masyarakat serasa “lembut” saja dengan apa yang mereka peroleh (pelayanan kesehatan)? Apakah mereka tidak berani menyuarakan kekecewaan atau ketidakpuasan terhadap yankes? Atau apakah mereka tidak mengetahui sebenarnya bahwa mereka sedang dikecewakan dan tidak dipuaskan oleh yankes?.

Ketidaktepatan sasaran bantuan kesehatan berupa dana atau yang lain, “cuek” nya pelayanan, mendahulukan yang ber’uang” dan mengakhirkan yang miskin, meninggikan biaya pendaftaran, pemeriksaan ataupun pengobatan, fasilitas yang dibedakan, kesalahan penulisan resep obat, ketidaktelitian dalam operasi bedah, dan seterusnya. Ini semua tidak menjadi masalah “besar” bagi masyarakat. Apakah karena ini berkaitan dengan kehidupan dan kematian sehingga masyarakat “takut” untuk memberikan “kritik pedas” bagi pihak-pihak kesehatan. Ketakutan tidak mendapatkan kesempatan periksa atau obat. Apakah bedanya dengan teriakan lantang tentang kenaikan BBM? Sama saja bukan.

Satu lagi yang harusnya masyarakat angkat bicara dengan lantang, ketidakjujuran dari pasien sendiri. Maksudnya, bahwa adanya penyalahgunaan status oleh kelompok tertentu. Kelompok “orang atas”. Kelompok yang mengaku sebagai “orang miskin” ketika memeriksakan kesehatannya. Dan parahnya lagi, ada oknum yankes yang ‘meloloskan” orang-orang tersebut untuk mengakses kesehatan, padahal nyata salah.

Surat keterangan tidak mampu adalah alatnya. Bila ditelusuri sedikit teliti, surat ini diterbitkan dari kelurahan (kepala desa) yang mendapat masukan dari ketua RT atau RW kemudian digunakan “pasien kaya” tadi ke pelayanan kesehatan, disana “pasien kaya ini melibatkan petugas administrasi, perawat dan dokter. Banyak sekali oknum yang terlibat. Namun, kurang disadari mayarakat “bawah” yang sering terkorbankan. Kesempatan yang sebenarnya harus mereka yang “bawah” merasakan jasa fasilitas kesehatan menjadi berkurang karena “kejahilan” “pasien kaya” itu.

Yang menjadikan pertanyaan yang mungkin menggelikan untuk kita semua adalah apakah “pasien kaya” tadi tidak malu mengakui dirinya sebagai “pasien miskin’? apakah uang yang mereka miliki tidak mencukupi untuk berobat, sehingga harus mengaku-aku miskin? Atau mereka takut kehilangan uang hasil kerja kerasnya untuk berobat? Sunggung memprihatinkan.

Bukankah mereka diberikan kesempatan untuk menikmati sebuah pekerjaan yang memberikan mereka gaji dan berbagai macam tunjangan hidup lainnya, dan tunjangan kesehatan kemungkinan besar juga mereka dapatkan. Hal materi mengalahkan “kemanusiaan”. Ironis. Lalu untuk apa uang yang mereka dapatkan? Mengatakan tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari adalah jawaban klasik. Untuk kemudian, bagaimana pendapat mereka atau perasaan mereka terhadap “pasien miskin” yang ada dihadapan mereka, yang notabene tidak memiliki pekerjaan yang otomatis tidak bergaji, untuk makan sehari-hari hutang, tempat tinggal yang tidak layak, sanitasi lingkungan yang buruk, sekarang untuk berobat “dihalang-halangi” orang-orang yang berkebalikan nasib dengan mereka.

Memang untuk menyuarakan masalah ini perlu adanya dukungan dari pemerintah dengan usaha perbaikan pelayanan kesehatan melalui kebijakan yang lebih memihak rakyat kecil, walaupun bukannya 100% mengesampingkan rakyat mampu, namun lebih memprioritaskan rakyat miskin. Selain dari pemerintah sebagai stakeholder tertinggi, pun bagi pihak-pihak swasta atau non government yang concern dengan masalah kesehatan dan rakyat miskin.

Kebijakan dan program yang responsif poor society sangat dibutuhkan untuk mengurangi bahaya latent dalam kesehatan. Artinya kecurangan-kecurangan yang mungkin kecil atau bahkan tidak terlihat yang lama kelamaan akan semakin menyengsarakan rakyat miskin. Peningkatan akses kesehatan, kemudahan fasilitas dan tertib administrasi serta kejujuran akan membantu mengikis masalah tersebut sedikit demi sedikit. Sehingga tujuan akhir mensejahterakan masyarakat (miskin atau tidak) akan tercapai.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!